Rabu, 28 Agustus 2013 − 09:13 WIB
Nilai tukar rupiah terhadap dolar dalam dua minggu ini
mengalami penurunan signifikan hingga sempat menembus Rp11.000 per USD1.
Sejak awal tahun, rupiah sudah kehilangan nilai tukar hingga lebih dari
10%.
Juga terjadi arus keluar dana investor asing yang keluar
dari Bursa Efek Indonesia senilai Rp7,8 triliun. Banyak pengusaha dan
media menyikapi fenomena ini secara intens dengan kekhawatiran
terjadinya krisis moneter seperti tahun 1998, di mana nilai rupiah
sempat menyentuh 17.000 dan
capital outflow secara masif yang
mengakibatkan krisis ekonomi berkepanjangan. Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, Jumat lalu (23/8), meluncurkan empat paket kebijakan ekonomi
untuk merespons penurunan tersebut.
Sebelum mengkaji efektivitas
paket kebijakan ekonomi tersebut, mari kita telaah penyebab penurunan
rupiah. Pasar valuta asing bekerja dengan prinsip penawaran dan
permintaan. Bila lebih banyak pelaku pasar yang menjual rupiah dan
membeli dolar dari sebaliknya, nilai tukar rupiah akan menurun. Secara
internal, Indonesia terdapat dua penyebab utama. Pertama, defisit neraca
berjalan yang pada kuartal II (April– Juni) 2013 mencapai 4,4% jauh
tinggi dari kuartal I (Januari– Maret) yang 2,8%.
Meningkatnya
defisit neraca berjalan berarti penduduk dan perusahaan di Indonesia
lebih banyak membeli dari luar negeri dibandingkan menjual. Sebagian
besar transaksi ekspor dan impor menggunakan dolar, sehingga permintaan
terhadap dolar meningkat untuk membiayai impor tersebut. Penyebab
internal kedua, adalah tingkat inflasi Indonesia. Apabila nilai riil
dari rupiah menurun karena inflasi maka nilai tukar rupiah terhadap mata
uang asing otomatis juga akan alami depresiasi.
Inflasi pada
Juli mencapai 3,29%, sehingga inflasi semester pertama (Januari–Juli)
2013 mencapai 8,61%. Angka tersebut cukup tinggi dibandingkan tingkat
inflasi tahun 2011 dan 2012 yang hanya 3,79% dan 4,3%. Tingginya inflasi
tahun ini disebabkan karena kenaikan harga BBM yang memiliki dampak
multiplier ke komoditi lainnya, khususnya yang memiliki komponen energi
dan transportasi yang signifikan.
Kenaikan BBM kali ini
berdempetan dengan Ramadan dan Lebaran, di mana terjadi peningkatan
permintaan barang dan jasa. Akumulasi kedua faktor ini berakibat pada
inflasi yang ekstra tinggi juga. Tingkat inflasi tahun 2005 yang alami
kenaikan BBM mencapai 17,11%, namun tidak terjadi
capital outflow dan
penurunan nilai rupiah yang drastis. Sehingga resep kebijakan yang
komprehensif membutuhkan analisis terhadap kondisi regional dan global.
Rapat
rutin Dewan Gubernur Bank Sentral Amerika, lebih kerap disebut The Fed,
memberikan indikasi akan mengurangi stimulus moneter yang selama ini
gencar dilakukan dengan menekan suku bunga dan memborong berbagai
instrumen pasar. Masa jabatan Bernanke sebagai pimpinan The Fed akan
berakhir pada awal tahun depan dan hingga sekarang belum ditetapkan
penggantinya.
Tingginya arus modal ke negara berkembang pada
2011 dan 2012 didorong oleh para pelaku pasar yang mencari tingkat
return lebih tinggi, dibandingkan obligasi pemerintah Amerika yang untuk
periode tersebut berkisar pada 1%. Laporan biro statistik Amerika pada
Agustus juga menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran yang
berkurang. Ekonomi Eropa juga menunjukkan tanda positif dan bahkan
neraca perdagangannya surplus.
Kombinasi berbagai faktor dan
tendensi kenaikan suku bunga di tersebut memicu sebagian para pelaku
pasar untuk pulang kampung ke Amerika dan Eropa. Maka bukan hanya
Indonesia yang alami
capital outflow dan penurunan nilai mata
uang, melainkan juga India, China, Brasil, dan Turki yang selama ini
dikategorikan sebagai emerging market yang selama dua tahun terakhir
menjadi favorit destinasi investasi pelaku pasar. Nilai mata uang India
bahkan jatuh hingga 17%.
Dengan kondisi dan latar belakang yang
dijabarkan, bagaimana resep kebijakan yang efektif untuk minimalisir
dampak negatif? Karena penyebab utama dari fluktuasi rupiah adalah dari
faktor eksternal dan dampaknya terkena ke banyak negara, perlu
koordinasi kebijakan antarnegara khususnya negara yang terkena dampak
dengan didukung beberapa negara G-8.
Koordinasi moneter yang
sering menjadi referensi adalah Plaza Accord pada 1985, di mana
pemerintah Amerika, Jepang, Prancis, Jerman, dan Kanada bergerak bersama
dan berhasil menurunkan nilai dolar Amerika terhadap yen (Jepang) dan
mark (Jerman). Indonesia bagian dari Chiang Mai Initiative yang
merupakan kerja sama Asia untuk perkuat stabilitas nilai tukar dan
makro. Pada 2010, Indonesia pernah meminta pinjaman siaga, padahal
cadangan devisa saat itu masih USD124,7 miliar.
Fluktuasi yang
asalnya short-termmem butuhkan respons kebijakan yang nyata dampaknya
pada jangka pendek Salah satu bagian dari paket kebijakan pemerintah
adalah mengurangi defisit berjalan. Bila kita telaah neraca berjalan,
24,3% dari impor Indonesia Januari–Juni 2013 adalah minyak dan gas yang
meningkat drastis 24,8% dibandingkan tahunlalu. Untukmengetahuiapakah
kenaikan BBM mengurangi konsumsi dan impor masih perlu menunggu BPS
mengeluarkan data bulan Agustus dan September.
Tentunya perlu
dikomplementasikan dengan kebijakan untuk perbaikan transportasi publik
dan berpindahnya dari BBM ke energi terbarukan. Adapun hampir sepertiga
impor nonmigas (31,6%) berupa mesin dan elektronik yang sebagian besar
merupakan bahan modal dan berpotensi mendorong ekspor. Fenomena ini
sering disebut
investment-induced import, di mana investasi
yang disetujui (khususnya 1-2 tahun lalu) sedang membangun pabrik dan
membeli mesin dari luar negeri yang pemerintah memberikan fasilitas
pembebasan bea masuk.
Jadi apa impor yang bisa dikurangi?
Kenaikan bea masuk untuk sektor otomotif yang merupakan 5,78% dari impor
harus diwaspadai sehingga tidak hanya substitusi ke tipe
low cost green car
(LCGC) yang mendapat pembebasan bea masuk. Potensi lain adalah
besi-baja yang merupakan produk impor terbesar ketiga dan 7,5% dari
total di mana Krakatau Steel telah menjalin kerja sama dengan Japan
Steel dan Posco Steel dari Korea Selatan.
Kebijakan lain untuk
mengurangi inflasi adalah menjaga pertumbuhan ekonomi dan permudah
investasi bersifat jangka menengah. Namun, perlu waktu untuk merasakan
dampak kebijakan ini, sehingga tak heran pelaku pasar tidak merespons
secara positif dan nilai rupiah serta IHSG tidak meningkat.
Supaya
kredibilitaskebijakan meningkat. Pemerintah perlu segera memberikan
detail dari insentif dan kebijakan dalam paket tersebut, sehingga dapat
dianalisis secara mendalam dan tidak berkesan sekadar pencitraan.
Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia pada khususnya perlu bekerja
ekstrakeras untuk menjaga stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi di
tahun politik.
BERLY MARTAWARDAYA
Dosen FEUI dan Ekonom Indef